Terdapat 9 Tamu online   ||   lulluare...! Sekarang hari :

 


Selamat datang di Website Kampung Mandar Sulbar Indonesia.      Diberitahukan bahwa telah dibentuk komunitas baru kami, Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar. Bagi yang ingin berbagi tulisan ataupun lainnya, silahkan gabung bersama kami atau hubungi kontak admin pada bagian bawah web ini.
Lokasi Anda : Home Artikel Kalindaqdaq - Syair/Puisi khas Mandar

Tampil : 60497 kali.

Kalindaqdaq - Syair/Puisi khas Mandar

KALINDAQDAQ

I. PENDAHULUAN

Jika kita menengok ke belakang, menelusuri lintas sejarah di Litaq Polewali Mandar, tak dapat dimungkiri bahwa nama Bumi Balanipa ini, adalah nama yang paling paten dan monumentum sejarah yang bisa bertutur banyak tentang masa lampau yang teramat jauh kebelakang dengan segudang kearifan leluhur dari berlapis-lapis generasi, yang bisa jadi panduan untuk memotivasi diri menapak penyesuaian masa kekinian dan selanjutnya menyongsong hari esok buat generasi pelanjut kita.

Yang kedua tak dapat dibantah bahwa Bumi Balanipa ini, sentralnya ungkapan-ungkapan leluhur yang penuh sopan, dan gerak langkah yang penuh santun, suatu bukti dengan melalui salah satu ugkapan, yang mana ungkapan ini sudah membudaya di masyarakat Mandar, utamanya di Balanipa ini dan ungkpan tersebut sampai detik ini, tak pernah lapuk karena hujan, tak pernah lekang karena panas, yang mengatakan :

"NA TAMA DI BALANIPA, MAINDANG KEDO PUANG, NAUPOKEDOI NAUNG MOLIMBO-LIMBO". (Saya akan ke Balanipa, meminjam/memeperhatikan tegur sapa yang sopan, gerak langkah yang santun, demi kucontohi, kuikuti untuk menghadiri acara-acara resmi).

Justru itulah para tokoh budayawan Mandar, sebahagian besar mengatakan, bahwa sastra Mandar ini, utamanya di Bumi Balanipa, dapat dibagi tiga point, yakni :

1. Kalindaqdaq
2. Pappasang
3. Pemanna

II. KALINDAQDAQ

Ciri kalindaqdaq, seperti umumnya puisi, adalah keterbatasannya, ketakbebasannya, yang membedakannya dengan toloq, karena toloq, seperti umumnya prosa, lebih bebas, lebih leluasa dalam bentuk dan aturan-aturan pengucapan.

Seperti halnya pantun Melayu, tembang Jawa, kelong Makassar, Elong Bugis, dan londe Toraja; maka kalindaqdaqpun diikat oleh syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi : jumlah larik dalam tiap bait, jumlah suku kata dalam tiap larik, dan irama yang tetap.

Menurut kebudayawan Mandar, kalindaqdaq Mandar mempunyai bentuk :

a. tiap bait terdiri atas 4 bait larik (baris).
b. larik pertama terdiri atas 8 suku kata.
c. larik kedua terdiri atas 7 suku kata.
d. larik ketiga terdiri atas 5 suku kata.
e. larik keempat terdiri atas 7 suku kata.
f. merupakan puisi suku kata.
g. Persajakan kalindaqdaq umumnya bebas, meskipun ada juga yang bersajak-akhir aaaa, abba, aabb.2)

Tema-tema kalindaqdaq :

1. humor (kalindaqdaq pangino)
2. satire (kalindaqdaq paelle)
3. kritik sosial (kalindaqdaq pappakaingaq)
4. pendidikan/nasihat (kalindaqdaq pipatudu)
5. keagamaan (kalindaqdaq masaalla)
6. kejantanan/patriotisme (kalindaqdaq pettomuaneang)
7. percintaan/romantik (kalindaqdaq to sipomongeq).

III. KALINDAQDAQ PANGINO (PUISI HUMOR)

Mua matei paqbokaq
Da mu balungi kasa
Balungi benu
Tindaqi passukkeang

(Kalau meninggal petani kopra
Jangan kafani kain kasa1)
Kafani saja serabut kelapa
Passukkeang2) jadikan nisannya


Indi tia to muane
Kande-kande sarana
Tiakkeqna kaca gommo
Magallisnaq domai.


(Aku ini pahlawan
Pahlawan dalam kue-kue
Terangkatnya toples
Habis, bersih, disikat tanpa sisa).


Indi tia to muane
Makko kaiyang sarana
Meloq si pattombangan di ule-ule bue
Meloq siruppuang kasippi.


(Aku ini pahlawan
Selalu memperhatikan mangkok besar
Rela sama bergelimang di bubur kacang hijau
Ikhlas lebur bersama kasippi1)

Indi tia to muane
Bolu peranggi sarana
Meloq di cingga, dipasicingga kue lapis
Melo si accurang sakko-sakkoq2.

(Aku ini pahlawan
Adalah mitranya kue bolu paranggi
Rela diwarnai, bersama kue lapis
Ikhlas hancur bersama sakko-sakko).

Indi tia passikola
Buku tulis sarana
Meloq dibaca
Meloq dipanulissi

(Aku ini anak sekolah
Adalah pencintanya buku tulis
Siap untuk dibaca
Sedia untuk ditulis).

IV. KALINDAQDAQ PAELLE (PUISI SATIRIK)

Polei paqlolang posa
Pesiona balao
Soroqmo dolo
Andiang buku bau

(Telah bertandang seekor kucing
Yang mengaku utusan tikus
Sudahlah, pulanglah
Disini tidak ada tulang-tulang ikan).

Mane dioi di baqba
Ibussang baba bua
Tirimba posa
Naola penawannaq.

(Baru ada diambang pintu
Si rakus gendut
Terhalau kucing
Ditimpa hembusan nafasnya).

Landuri diong I lissi
Punno lisseq tondonnaq
Timbeq-i naung
Sarappiq1) saq uyungan.

(Lewat dijalan si Lissi
Penuh kutu kepalanya
Lempari kebawah
Sisir rambut seikat).

Landuri diong I Kaco
Massoppoq patti loqbang
Meloq disanga
Pole ditana Jawa

(Lewat jalan si Kaco
Memikul peti kosong
Mau dikata
Datang dari pulau Jawa).

V. KALINDAQDAQ MAPPAKAINGAQ (KRITIK SOSIAL)

Pitu tokke pitu sassa
Sattindorang buliliq
Sangnging ma uwang
Baleri tomawuweng.

(Tujuh tokek tujuh cecak
Dan seiringan kadal
Semuanya berkata
Genit lagi si orang tua).

Muaq diang to mawuweng
Baler mendulu
Alangi rottaq*)
Patuttuang tondinnaq

(Bila ada orangtua
Genit kembali
Ambilkan sendok nasi
Pukulkan ke tengkuknya).

Mau ana?, mau appo
Mau biya, mau perruqdusang
Mattedoang koyokang
Ito tambeasa maq gau.

(Namun anak kandung, maupun cucu
Sekalipun cibirang tulang, kendatipun keturunan
Menendang kobokan
Orang tak pernah menduduki fungsi).

Innami takkeamaq lino
Tattallang dunnia
Poppor loka
Musanga uru sei.

(Bagaimana tidak akan kiamat bumi
Tak kan tenggelam dunia
Tandang pisang yang dibawah
Disangka tandang pisang yang diatas).

Di pebulu dami manu
Di pemarabe dami
Andiang tomi
Di peillang sissiqna.

(Bulunyalah ayam yang dilihat
Mahkota indahnya yang dipandang
Tiada perlu lagi
Diperhatikan sisik keberadaannya).

Pammanauangi tuq-u paqmai
Mua ita to tuna
Pammongeangi tuq-u ate
Muaq ita to kasi-asi.

(Sedih nian sanubari
Bila kita orang hina dina
Sakit nian hati
Jika kita orang miskin).

VI. KALINDAQDAQ PIPATUDU (PUISI PASTORAL)

Dipameang pai dalle
Dileteangngi pai
Andiang dalleq
Mambawa alawena.

(Rezeki harus dicari
Dan dibuatkan titian
Tiada rezeki
Yang datang sendiri).

I Cicci paq manini
Kaiyang simbolongnaq
Di pettuppuang
Diperauang sorong.

(Si puteri kesayanganlah kelak
Besar indah sanggulnya
Dipertahankan/dikokohkan
Dimintakan mas kawin).

Nadiondoq-i I Cicci
Na di damo-damoi
Tuo marendeng
Diang bappaq dalleq-na.

(Diayun puteri kesayangan
Dengan belaian kasih sayang
Panjang umur
Semoga mendapat rezeki).

Diang dalleq mulolongan
Daq mu gula-gulai
Andiang tu-uq
Nasadia-diannaq.

(Ada rezeki diperoleh
Jangan diroyalkan
Sebab tidak akan
Selalu ada).

Usurung mallete lembong
Matindo manu-manu
Maq ayumai
Dalle pole dipuang.

(Walau harus menyeberangi lautan
Tidur laksana burung
Demi berikhtiar/berusaha
Rezeki dari Yang Maha Kuasa).

VII. KALINDAQDAQ MASAALA (PUISI RELIGI)/AGAMA

Disebut kalindaqdaq masaala, karena berisi masalah-masalah keagamaan.itulah sebabnya kalindaqdaq masaala umumnya terdiri dari dua bait. Bait pertama mengajukan masalah, bait kedua memberikan jawaban.

Inna sambayang-sambayang
Sambayang tongang-tongang
Meloq u issang
Meloq uu ajappui.

(Mana sembahyangnya sembahyang
Sembahyang yang sebenar-benarnya
Ingin kutahu
Ingin kuyakini)

Indi sambayang sambayang
Sambayang tongang-tongang
Tandi kedoang
Napakedo alawena.

(Inilah sembahyangnya sembahyang
Sembahyang yang sebenar-benarnya
tidak digerakkan
digerakkan dirinya sendiri).

Ahera oroang tongan
Lino dindan di tiaq
Borong to landur
Leppang dipettullungngi.

(Kampung akhirat tujuan akhir
Dunia ini hanya pinjaman
Ibarat musyafir
Sekedar singgah untuk berteduh).

Meillong domai ku?bur
Siola sulo-oq mai
Oroang ku?bur
Taq lalo mappttannaq.

(Dunia kubur memberi isyarat
Hendaklah anda siapkan obor
Sebab disana diliang kubur
Gelap gulita tiada taranya).

Sambayang di tiaq tu-uq
Namaka di pesulo
Kedo macoa
Namaka di pekasor.

(Sembahyang itulah yang paling baik
Dijadikan obor dalam kegelapan
Karya yang mulia
Bekal yang cocok dijadikan kasur).

Tandi soppoi sambayang
Tandi teweq-i jenqne
Iyamo tiaq
Maparri di pogau.

(Tidak akan dipikul sembahyang
Tidak akan dijinjing wudhu
Itulah dia
Sukar dilaksanakan).

Manu-manu apa tiaq
Pole di dappingallo
Zkkir bambaqna
Koroang pecawannaq

(Burung apa gerangan
Yang datang disaat subuh
Zikir suaranya
Al-Qur?an tawanya).

Apa ande di suruga
Pewongan di alleqna zikkir
Tambottuq
Lailaha Illallah.

(Apa gerangan santapan di surga
Bekalan diperantaran zikir
Yang tak pernah putus
Kalimat Lailaha Illallah).

Manu-manu disuruga
Saiccoq pole boi
Mappettuleang
To sukku sambayanna.

(Burung indah penghuni surga
Senantiasa datang mengintai
Mengintai dan menanyakan
Orang yang sempurna shalatnya).

Passambayang mo-oq dai
Pallima wattu mo-oq
Iyamo tu-uq
Pewongan diahera.

(Hendaklah anda tegakkan shalat
Lima waktu selalu sempurna
Sebab itulah bekal abadi
Menuju hari kemudian).

Apamo di tiri alang
Di parakkaqna dunnia
Annaq mikkeqde
Boyang sambua-bua.

(Apa yang diciptakan alam
Dalam membangun dan menata bumi
Sehingga berdiri
Rumah yang satu-satunya).

Boyang sambua di lino
Daq dua arriannaq
Pitussulapa
Pitu pepattoang.

(Rumah satu di dunia
Dua tiangnya
Tujuh sudut
Tujuh jendelanya).

Boyang dilalang di kaodong
Pitu sawa-sawannaq
Mesa tibua
Pura dipepattoi

(Rumah didalam kenangan abadi
Tujuh bubungan atapnya
Satu terbuka
Semuanya ditempati mengintai).

Pappeyappu daq di Puang
Di tajallinna Muhamma
Rapangi tu-uq
Bilang sappulo appe.

(Keyakinanlah kepada Yang Maha Kuasa
Sinar dan cahaya Muhammad
Bagaikan
Bulan purnama raya).

Pappeyappu daq di Puang
Tannaratang paindoqna
Si pekkedeang nurung
Anna Muhamma.

(Keyakinanlah kepada Yang Maha Pencipta
Betapa terang cemerlangnya
Sejajar dan searah nurung
Dengan Muhammad).

Muaq polemi manini
Di andiang rapanganna
Iya issanna
Lailaha Illallah.

(Bila tiba kelak
Yang tiada perumpamaannya
Didalam pengetahuannya
Oleh Yang Maha Agung).

Ayappui tonga-tongan
Rokonna asallangan
Iyamo tu-uq
Pewongan di ahera.

(Pahami yang sebenar-benarnya
Semuanya rukun Islam
Sebab itulah
Bekal akhirat kelak).

Bismillah akkeq letteqna
Alepuq pelliaqna
Turang loana
Lailaha Illallah.

(Bismillah angkat kakinya
Alif langkahnya
Tutur katanya
Lailaha Illallah).

VIII. KALINDAQDAQ PETTOMUANEANG (PUISI PATRIOTISME)

Indi tia to muane
Bannang pute sarana
Meloq di bolong
Meloq di lango-lango.

(Aku ini pahlawan
Adalah benang putih
Yang siap basah
Menghadapi warna apapun).

Muaq tongano muane
Pattandai mo-oq galung
Nadiengei
Sipettombangan cera.

(Bila anda betul pahlawan
Tunjukkanlah lokasi dan lapangan
Akan di tempati
Sama bergelimang di telaga darah).

Menangi kaccang tunggara
Menangi na sumobal
Tanda mokau
Tuali di lolangan.

(Semakin kencang angin tenggara
Semakin layar terkembang
Suatu pertanda pantang mundur
Balik surut dari samudera luas).

Takkalai di sobalang
Dotai lele ruppu
Dadi nalele
Tuali di labuang.

(Sekali bahtera layar terkembang
Karam dan hancur tak kuhiraukan
Asal tidak gempar terseriar
Balik surut ke pangkalan semula).

Muaq purami di palandang
Pemali diliaiq
Muaq purami di pobambaq
Pemali di peppondoq-i.

(Jika sudah terbentang
Pantang dilangkahi
Bila sudah diikrarkan
Pantang membelakangi).

Muaq purami di pau
Purami di poloa
Daq leqba tia
Soroq tammappasaqbi

(Bila kita sudah berucap
Jika mulut sudah berbincang
Jangan sampai mencoba diri
Surut menghilang tanpa pamit).

Dotai sisaraq
Salakka annaq uluttaq
Dadi tia sisaraq
Loa tongatta.

(Lebih baik berpisah
Badan dengan kepala
Dari pada berpisah
Ungkapan yang telah diucapkan).

Dotai tau sisaraq
Maraqdiatta
Dadi tia sisaraq
Assamalewuangtaq.

(Lebih baik kita berpisah
Pemimpin kita
Dari pada berpisah
Persatuan dan kesatuan kita).

Namanetteaq lipa
Sureq di sigayangngi
Puccana cera
Birinnaq mata gayang.

(Aku akan menenung sarung
Corak saling bertikaman
Kepala coraknya darah
Pinggirannya mata keris).

Tania passobal
Muaq mappelinoi
Lembong di tiaq
Mipatada di pottanaq.

(Bukan awak perahu
Bila menunggu tenangnya ombak, redanya badai
Sebab ombaklah
Yang membawa hingga dapat tiba di daratan).

Tania to muane
Muaq jiripai gayang
Attonganang di tiaq
Di sanga to barani.

(Bukan pahlawan
Bila harus ada keris terselip di pinggang
Karena keadilan dan kebenaranlah
Yang dikatakan kesatria).

IX. KALINDAQDAQ TO SIPOMONGEQ (PUISI ROMANTIK)

Pitu buttu mallindungi
Pitu taq-ena ayu
Purai accur
Naola saliliq-u.

(Tujuh gunung menghalangi
Tujuh dahan kayu
Semua rata semuanya hancur
Dilanda rinduku).

Batu toyang dilolangan
Peatallangngoq-o naung
Apaq nanaolai
Lopinna tomasara nyawa.

(Wahai batu dan karang di tengah samudera
Tenggelam dan karamlah engkau
Karena akan dilintasi
Perahunya kelana yang merana).

Ulamung batui sarau
Di naunna ende?mu
Jappoq-I batu
Tanjappoq passengaq-u

(Kubenamkan cintaku, bak membenam batu
Di bawah tanggamu
Batu hancur
Tapi kerinduanku tak akan luntur).

Nalayangangmi cinnaq-u
Naliliang sarau
Iqdai mala
Dipasima-simangngi.

(Diterbangkannya harapanku
Dilayangkan harapanku
Tak dapat lagi
Untuk menahannya).

Mapanraq sonaiq toaq
Mongeaq sonai toaq
Muaq iq-o bandi
Usimonge-mongeang.

(Susah dan merana tak kan mengapa
Sakit pedih biarkan daku
Asalkan dikau
Membalas kasihku).

Ukolliangi sarau
Di lisu simbolongmu
Mau matindo
Muilalai toaq.

(Kuikatkan tanda kasihku
Di pusat sanggulmu
Biarpun kau nyenyak tidur
Kan terkenang juga kepadaku).

Pattuaq mannawa-nawa
Saqulaq mattimbangngi
Maupaq bandi
Muaq na teqtoq iq-o.

(Sulit sungguh memikirkan
Sukar nian merenungkan
Mujurlah diri
Bila engkau demikian jua).

Beru-beru baqbar-aoq
Pandeng malassuq-aoq
Napuppi-aoq
Ito pammalanreang.

(Melati, janganlah engkau mekar
Nenas, janganlah engkau layu
Jangan sampai di petik
Oleh insan yang pembosan).

Beru-beru penggilingmu
Bunga lawar passoemu
Bunga tipussuq
Peitammu leqmai.

(Bunga melati pandanganmu
Kembang mawar ayunan tanganmu
Bunga mekar harum
Lirikanmu terhadapku).

Iqda naung nameita
Allo naung natambus
Assirumungannaq
Matanna to salili.

(Kutak ingin memandang kesana
Sang surya yang akan terbenam
Karena di ufuk sana, perpaduannya
Mata yang dilanda kerinduan).

Diang lao to salili
Pepattoang naluba
Apaq iyau
Nyawau namalai

(Orang yang dilanda arus kerinduan
Kepada jendela segera bergegas
Kiranya aku
Jiwa raga ingin melayang).

Inggai para sumobal
Sipandalle-dalleang
Andiang dalle
Itamo sipodalle

(Marilah kita sma berlayar
Sama mengadu nasib
Tiada untung dan rezeki
Kiranya kitalah saling menerima rezeki).

Meapa ami mongeqna
To manniaq tandottong
Titedo dua
Annaq kindo diellongngi.

(Bagaimana niang sakit parahnya
Yang diidam-idamkan tiada terwujud
Kiranya hanya kaki tersandung
Ibunda yang dipanggil).

Accur tongani ateu
Marere rapang sia
Sawaq batammu
Usenga, usalili.

(Betapa remuk redamnya hatiku
Hancur luluh bagaikan garam
Disebabkan tubuhmu
Yang selalu kukenang, senantiasa kurindukan).

Mazdondonna duambongi
Annaq maullung allo
Damoq pettule?
Salili-uq motu-uq.

(Besok lusa
Manakala langit mendung
Tak usahlah anda bertanya
Itulah pertanda kerinduanku).

Tambar ditippa manini
Pauli ditit topa
Annaq massau
Garring di alaweu.

(Air penawarmulah kelak
Pun minyak obatmu jua
Yang mampu menyembuhkan
Demam yang ada pada diriku).

Tennaq rapangdaq uaiq
Lambaq lolong lomeang
Mettonang banda
Dinaunnaq endeqmu.

(Seandainya aku laksana air
Mengalir kesana-kemari
Maka aku berlinang
Dibawah naungan tanganmu).

Musaq diang bura lembong
Disambah di uluang
Damo pettuleq
Saliliq-u motu-uq.

(Jika ada putihnya hempasan ombak
Menghempaskan diri di buritan
Janganlah anda bertanya
Itulah arus kerinduanku).

Usurungani matindo beke
Di naunna ende?mu
Mattattangai
Pendai perrawummu.

(Kusengaja tidur laksana kambing
Di bawah naungan tanggamu
Menunggu dan menanti
Naik dan turunmu selalu).

Inggai para mattinja
Para malloa-loa
Batattaq bappa
Mala dai si pake.

(Marilah kita berikrar
Sama berjanji
Semoga hubungan yang penuh kenangan ini
Dapatlah hendaknya terjalin dengan mesrah).

Muaq lesseaq malai
Annaq maullung allo
Damo pettule
Saliliq-uq motu-uq.

(Bila aku telah pulang
Kemudian langit mendung
Tak usahlah anda bertanya
Itulah cahaya kerinduanku).

Diang sarau saicco
Uputi daun camba
Arangi tiwua
Muaq tania iq-o.

(Ada kasihku sedikit
Kubungkus daun asam
Pantang dan haram terbuka
Jika bukan anda yang membukanya).

Tennaq uitadi dai
Bittoeng sippaqtummu
Iqda matindo
Muaq iqdai tambus.

(Seandainya aku melihat ke atas
Cahaya bintang di atasmu
Justru aku tak akan tidur
Sebelumnya ia terbenam).

Usanga bittoeng raqda
Dibaqbana songimmu
Ikandi palakang
Manggiling loqdiannaq.

(Kusangka bintang jatuh terkapar
Dimuka pintu kamarmu
Kiranya dinda
Memutar balik cincinnya).

Tennaq diang di adaqna
Lolong tama uwai
Mappatubanda
Sallang memonge-monge.

(Seandainya ada adat kebiasaan
Air mengalir ke hulu
Aku akan mengirim
Salam yang merisaukan dan merindukan).

Lappaqmi iyau letteq-u
Kambang pegallangaq-u
Mapponayoi
Matanna alawemu

(Sakit dan parah kakiku
Mengembang betisku
Mundar-mandir
Demi memperhatikan kecantikan tubuhmu).

Monge-monge paq iyau
Annaq tonande gayang
Tonande gayang
Tonande gayang diang pauliannaq.

(Betapa parah dan sakitku
Lebih parah dan sakit dari pada orang yang bertikam keris
Yang tertikam keris
Masih ada usaha dan pengobatannya).

Inai tosara baru
Nalloi-naurangngi
Sara barunna
Itosoro mamboyang.

(Hasrat suci, cinta murni siapa gerangan
Dijemur dihujani
Hasrat suci, cinta murninya
Insan yang telah berantakan rumah tangganya).

Tania tozdi batangngu
Na naposara batangmu
Batang to tuna
Taq-e to kasi-asi

(Bukannya diri pribadiku yang dimaksud
Yang dimaksudkan oleh diri pribadimu
Pribadinya orang hina
Tangkainya orang miskin).

Uru-uru name endeq
Gayang napetaeng
Pindaq-duanna
Kowi kaiyang damo.

(Awal mulanya naik ke tangga
Keris yang diselipkan
Setelah kedua kalinya
Parang besarlah sudah).

Gau tongappai iyau
Sara mennassa topa
Annaq tiwua
Temunganna nyawau.

(Tindak laku yang mulia
Hasrat suci yang jelas
Yang akan mampu membuka
Tabir pintu kalbuku).

Tenna dazda tarring kambu
Tarring pokki loloqna
Muwatta banda
Muala polattangan.

(Seandainya aku bukan bambu jelek
Bambu yang terpotong ujungnya
Justru anda akan menebang
Digunakan untuk lantai).

Tennaq dazda bale beong
Bale mate kindoq-u
Natuna banda tia
Nasirua-ruai

(Seandainya aku tidak segera yatim
Takkan segera ditinggalkan ibunda
Hina dan papa
Tidaklah seberapa, dan tidaklah berarti).

Meita dai di bulan
Pai-paindo pai
I'da naindo
Apaq tuna iyau.

(Kulancarkan pandanganku ke atas rembulan
Aduhai, betapa cemerlang dan bercahayanya,
Hanya aku yang tak disinari sinarnya
Karena aku hina dan papa).

Rappei tona murappe
Rappe toa iyau
Sangga iyau
Namusala murappe.

(Sebut dan kenanglah orang yang anda kehendaki
Aslkan aku juga disebut dan dikenang
Jangan sampai hanya aku
Dilupakan disebut dan dikenang).

Meapaami mongeqna
To mannia tan dottong
Ti tezdo dua
Annaq kindo diellongngi.

(Bagaimana sakit parahnya
Orang yang mencita-citakan tiada tercapai
Tersandung kaki sedikit
Ibunda yang dipanggil-panggil).

Mongea monge di lalang
Magarring ida' limbang
Mongea nasurungang
Batang di alawena.

(Betapa parah dalam jiwaku
Demam dalam yang tak nampak
Parah disebabkan
Tubuh jelita dihayatnya).

Rapangaq dai di makka
suju di Baitullah
wattu meloqmu
sioro-oroang.

(Bagaikan aku ke Mekah
Sujud di Baitullah
Sewaktu anda bersedia
Duduk bersamaan).

Accur tongani ateu
Marere rapangi sia
Sawa batangmu
Usenga-usalili

(Betapa hancur luluh hatiku
Hancur laksana garam
Di sebabkan tubuh indahmu
Senantiasa kukenang dan kurindukan).

Mane meppusui pandeng
Diongmaq di naunnaq
Accilakaq-u
Baqbarmi taq utara.

(Kiranya nenas baru berkuncup
Aku telah bernaung di bawahnya
Aduhai, malangku
Ku tak tertahan setelah mekar).

Inai marroyong bulan
Annaq raqbas bittoeng
Ibaju calla
Manggeser lodiannaq.

(Siapa gerangan menggoyang sang rembulan
Sehingga bintang-bintang bertaburan
Kiranya si baju merah
Memutar balik cincinnya).

Omas diting di rupammu
Tiqdi naung di lita
Polei naung
Jari ittangjamarroq.

(Keringat yang ada di wajahmu
Jatuh berlinang membasahi bumi
Kiranya tiba
Menjelma intan dan zamrud).

Mane diongo-o di toyang
Ulagai mo-oq naung
Tuo-oq dai marendeng
Batattaq nasipake.

(Sejak anda di ayunan
Aku telah mencumbu dan merayu
Selamat dan panjang umur
Semoga terjalin kasih dan mesrah).

Doq-a apa mu podoq-a