Terdapat 95 Tamu online   ||   lulluare...! Sekarang hari :

 


Selamat datang di Website Kampung Mandar Sulbar Indonesia.      Diberitahukan bahwa telah dibentuk komunitas baru kami, Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar. Bagi yang ingin berbagi tulisan ataupun lainnya, silahkan gabung bersama kami atau hubungi kontak admin pada bagian bawah web ini.
Lokasi Anda : Home Sejarah Bahasa “Koneq-koneqe” Suku Mandar, Bahasa yang Terancam Punah

Tampil : 4140 kali.

Bahasa “Koneq-koneqe” Suku Mandar, Bahasa yang Terancam Punah

Sejarah.Kompasiana.Com oleh Atikah Hudriansyah || 30 September 2011

Bahasa Campalagian atau biasa disebut bahasa koneq-koneqe ternyata memiliki sejarah yang amat unik. Dilihat dari letak desa Campa (red. Campalagian) yang berada di wilayah Polewali Mandar, seharusnya masyarakat Campa menggunakan bahasa Mandar. Tapi ternyata tidak. Mereka memiliki bahasa sendiri yang sangat jauh berbeda dengan bahasa Mandar.

Berawal dari keingintahuan saya karena satu kejadian lucu di awal tahun 2008. Suatu hari saya iseng memasang status di facebook menggunakan bahasa koneq-koneq, yang saya tau bahasa koneq-koneq ya bahasa Mandar jadi yang mengerti atau berkomentar di status saya pasti orang Mandar juga. Ternyata saya salah, yang berkomentar malah memakai bahasa yang saya tau itu bahasa Bugis. Otomatis saya bertanya kepada yang berkomentar kenapa kog Anda mengerti bahasa saya padahal yang saya pake bahasa Mandar. Orang itu menjawab dengan santai, “Lho bahasa yang kamu pake kan bahasa Bugis, makanya aku mengerti.”

Nah, jujur saya sangat bingung membaca jawaban orang itu. Kog bisa bahasa yang sehari-hari papa mama dan keluarga saya pakai (baik di rumah saya maupun di rumah kakek nenek saya) disebut bahasa Bugis?

Singkat cerita, saya bertemu dengan Alm. Prof. yang ternyata masih kerabat dengan keluarga dari mama saya. Setelah selesai bertanya ini itu tentang Perkawinan Orang Mandar, iseng saya bercerita tentang kasus status saya itu. Jawaban Prof. ternyata sangat membuat saya kaget. Beliau berkata, “Bahasa koneq-koneqe itu bukan bahasa Mandar tapi bahasa Bugis dialek ke tujuh.”
Akhirnya Pak Prof. bercerita bahwa dulu ada kampung yang bernama Cempalagi di Bone, Sulawesi Selatan, yang didiami oleh masyarakat Bugis.

Saat itu masih jaman kerajaan, suatu hari terjadi perebutan kekuasaan antara kakak beradik yang ingin menggantikan tahta ayahnya sebagai raja yang telah meninggal. Pemilihan pun dilakukan, namun karena sang kakak mempunyai watak keras, sombong dan serakah maka tidak ada rakyat yang mendukung. Sebaliknya sang adik yang baik hati dan dermawan didukung penuh oleh rakyat di Cempalagi (Cempalagi adalah sebuah nama gunung yang terletak di pesisir teluk Bone. Tepatnya di Desa Mallari Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone, kira-kira 14 km di sebelah utara kota Watampone).

Sang kakak pun marah karena tidak terima dikalahkan oleh adik kandungnya sendiri. Ia pun berniat membunuh sang adik. Berkat ketulusan sang adik, ia berniat untuk mundur menjadi raja dan menerima kalau kakaknya yang menjadi raja. 

Namun sang kakak sudah kadung marah, sehingga ia tetap tidak terima keputusan adiknya itu. Akhirnya sang adik dan semua rakyat yang mendukungnya memutuskan untuk kabur dari desa Campalagi menuju daerah yang aman. Sang kakak ternyata tetap mengejar karena dendam terhadap adik dan semua rakyat yang ikut dengan adiknya.

Akhirnya sang adik tiba di perbatasan Kerajaan Balanipa (yang saat itu dibatasi oleh jembatan Mapilli) berharap akan mendapat perlindungan dari Raja Balanipa karena ia tau kakaknya tidak mungkin masuk ke kekuasaan kerajaan lain. Dan ternyata sang adik dan pengikutnya disambut baik oleh Raja Balanipa.

Selang beberapa lama Raja Balanipa akhirnya memutuskan untuk memberikan satu wilayahnya kepada sang adik dan pengikutnya asalkan mereka mau tetap tinggal di Balanipa. Sang adik dan pengikutnya setuju dan gembira dengan keputusan Raja Balinpa tersebut. Akhirnya mereka semua tinggal dan menetap di Balanipa dan wilayah itu diberi nama CAMPALAGIAN.

Nah, maka dari itu tidak heran mengapa sekarang masyarakat di Desa Campalagian hingga kini menggunakan bahasa koneq-koneq yang tidak lain adalah bahasa Bugis dialek ke tujuh. Tetapi juga tetap masyarakat Campalagian mengerti bahasa Nasional mereka yaitu bahasa Mandar :).

Namun sayang kini yang menggunakan bahasa koneq-koneqe sebagai bahasa sehari-hari tinggal beberapa desa saja, salah satunya adalah Desa Bonde (Kampung Masigi) kampung halaman orang tua saya. Akibatnya bahasa koneq-koneqe kini terancam punah.

Atikah Hudriansyah

 

Comments 

 
#1 Setiawan 2012-08-16 14:32
Ass..
wahh ternyata ada yg prihatin juga dgn bahasa moyang dr mama sy neh!!

makanya anak cucu harus tetap menggunakannya walau hanya 5 kalimat setiap hari hehhehe
Quote
 
 
#2 Eko 2013-07-30 14:43
Bonde ondroan to mala'bie..ondroanna ulama e..
Quote
 
 
#3 annha 2013-11-07 04:04
Quoting Setiawan:
Ass..
wahh ternyata ada yg prihatin juga dgn bahasa moyang dr mama sy neh!!

makanya anak cucu harus tetap menggunakannya walau hanya 5 kalimat setiap hari hehhehe
yupz..
Quote
 
 
#4 annha 2013-11-07 04:05
waw... bahasa yang bikin aku ketawa adalah bahasa kone'kone'e..... unik bangat deh....
Quote
 
 
#5 Muhd Abdy 2014-03-20 05:05
oooo....akkuaipalero'de....jari topole bugi'qi pale'ne'e.....
Quote
 
 
#6 Herman Salam 2014-03-30 17:57
Tau ugiki pale sepolo
Quote
 
 
#7 nur mia 2014-04-20 12:08
Tdk benar itu
Quote
 
 
#8 aswan 2015-06-11 18:00
Quoting nur mia:
Tdk benar itu

Coba alasannya ?
Quote
 
 
#9 hasrul 2016-10-18 15:50
Bahasa koneq-koneq itu tdk hanya ada di campalagian, tapi bahasa koneq-koneq itu adalah bahasanya orng Tallumpanuae. Wilayah Tallumpanuae itu mencakup Nepo, Mapilli, dan Campalagian.
Quote
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :

Chat Box


Bagi yang ingin berbagi tulisan atau lainnya mengenai Budaya Mandar, silahkan gabung bersama kami di Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar http://kpbwm.or.id/
Kampung Mandar Website Indonesia || Youtube|| Feeds|| Copyright © 2010-2013