Terdapat 19 Tamu online   ||   lulluare...! Sekarang hari :

 


Selamat datang di Website Kampung Mandar Sulbar Indonesia.      Diberitahukan bahwa telah dibentuk komunitas baru kami, Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar. Bagi yang ingin berbagi tulisan ataupun lainnya, silahkan gabung bersama kami atau hubungi kontak admin pada bagian bawah web ini.
Lokasi Anda : Home Sejarah Assitaliang Mandar - Bocco Tallu

Tampil : 2824 kali.

Assitaliang Mandar - Bocco Tallu

Ada beberapa perjanjian (assitalliang) oleh Raja-Raja di Mandar pada Masa Kerajaan (Pemerintahan Tradisional), diantaranya adalah :

Assitaliang Bocco Tallu (Perjanjian Persekutuan Tiga Kerajaan)

Pada mulanya, semua kerajaan yang ada di Mandar belum terjalin dalam satu persekutuan atau kerjasama antar kerajaan. Masing-masing kerajaan berdiri sendiri dan memerintah serta berdaulat penuh di wilayah kerajaannya sendiri tanpa ada hubungan kerjasama dengan kerajaan lainm baik yang ada di Kawasan Mandar, terlebih kerajaan yang ada di luar wilayah Mandar.

Masing-masing kerajaan berusaha memperluas wilayah kekuasaannya, sehigga sering terjadi perselisihan yang berlanjut pada perang antar kerajaan. Upaya menghancurkan kerajaan lain dengan tujuan menjadi yang terkuat dan terbesar adalah kejadian rutin di Mandar pada saat itu.

 

Puncak kekacauan terjadi ketika munculnya kerajaan Passokorang yang membuat keonaran hampir di setiap kerajaan yang ada di Mandar. Perampokan dan upaya adu domba antara kerajaan Passokorang yang membuat keonaran hampir di setiap kerajaan yang ada di Mandar. Perampokan dan upaya adu domba antara kerajaan satu dengan kerajaan lainnya dilakukan oleh orang-orang Passokorang yang hampir saja berhasil menghancurkan seluruh Mandar.

Keadaan yang sangat meresahkan ini membuat Puatta di Saragiang, Arayang Alu pada saat itu menjadi sangat khawatir mengingat 2 orang putranya masing-masing Puatta di Galu-Galung dan Puatta di Lepong sudah menjadi raja. Puatta di galung-galung menjadi raja Alu dan Puatta di Lepong menjadi raja di Taraqmanu. Dari kekhawatiran kedua putranya akan menjadi korban situasi yang bisa saja mengakibatkan terjadinya perang saudara inilah sehingga Puatta di Saragiang bertekad membentuk semacam persekutuan atau persatuan dari kedua kerajaan yang dipimpin oleh anak-anaknya.

Pada saat bersamaan, adik kandung Daeng Palulung Arayang Sendana yang bernama Daeng Sirua menikah dengan putri Puatta di Saragiang. Moment pertalian kekeluargaan ini semakin membuka jalan bagi Puatta di Saragiang untuk mewujudkan impiannya.

Ide itu kemudian dibicarakan bersama dengan daeng palulung yang disambut dengan sangat gembira oleh arayang sendana tersabut. keduanya lalu membicarkan dengan hadat masing-masing yang membuahkan kesepakatan untuk mengadakan pertemuan puncak di Sibunoang salah satu wilayah kerajaan alu pada saat itu.

Pertemuan atau perjanjian ini kemudian dikenal dengan nama perjanjian bocco tallu yang merupakan perjanjian persekutuan pertama kali di mandar yang terjadi pada sekitar abad IX / X Masehi. Istilah Bocco Tallu sendiri yang terdiri dari kata bocco dan tallu memiliki pngertian harfiah yaitu ; Bocco sama dengan kumpulan atau perkumpulan dan tallu sama dengan tiga. jadi bocco tallu adalah persekutuan atau persatuan dari tiga kerajaan.

Selain pembentukan secara resmi persekutuan yang kemudian diberi nama bocco tallu tersebut, dalam pertemuan itu juga di buat  beberapa butir perjanjian dan kesepakatan lalu ditutup dengan pengucapan sumpah atau akrar kesetian yang akan memegang amanah, mematuhi segala kesepakatan yang didapatkan dalam pertemuan.

Prosesi pengucapkan ikrar tersebut dilakukan dengan menggenggam kalupping (daun sirih yang dilipat bersama telur dan emas) yang kemudian dibuang kedalam sungai decara bersama-sama.

Yang menggenggam dan membuang kelupping tersebut secara bersama-sama adalah puatta di Galu-galung Raja Alu. Puatta di Lepong Raja Taramanuq dan Daeng Sirua Raja Sendana, tapi yang mengucapkan sumpah dan ikrar kesetiaan adalah Puatta di Saragiang bersama Deang Palulung disaksikan oleh seganap hadat dari ketiga kerajaan.

Sumpah atau ikrar perjanjian bocco tallu pertama tertulis dalam lontar sendana mandar sebagai berikut :
"Madzondong duambongi anna dziang mappa sisala pattallumboccoang, ongani balimbunganna baoangi arrianna. Iya-iyannamo tau mamboeq pura lao meppondoq diallewuang di pattallumbocoang mendaung raqbas mettaq-e sapeq, membatang puar meq-uwake rattas, taq-e napengngaanni taq-e sapeq, pappang naola pappang raqba, buttu naola buttu latta, puppus sorokawu mangande api dipennannaaranna tomamboeq pura loa".

Terjamahan :
Suatu saat bila ada yang memecah belah persekutuan bocco tallu, balikkan bubungan rumahnya ke bawah dan tiangnya ke atas. barang siapa diantara kita menginkari perjanjian membelakangi kesekapatan dalam persekutuan bocca talu, berdaun gugur bertankai jatuh, berbatang tumbang berakar putus, dahan dipegang dahan jatuh, lembah dilalui lembah runtuh, gunung dilewati gunung terpotong. Hidupnya terkutuk bagai api membakar turun temurun yang ingkar pada perjanjian.

Butir-butir perjanjian yang disekapati dalam pertemuan ini merupakan hasil pemikiran puatta di saragiang dan deang palulung yang tertulis dalam lontar sendana mandar sebagai berikut :

Nauamo Idaeng Palulung ; "Tallumi tau anna mesa, mesami anna tallu, Sendana. Alu, Taramanuq, Litaq silambang tassi poalla, tassi tundang matadzang tassi royong masandeq, tauttaq sisolong tassi sawaq, mesa balami tanni atoning, Sendana, Alu, Taramanuq di Puang di Kondo Budata, mate simateang tuo sattuoang".
Berkatalah Daeng Palulung ; "Kita bertiga telah jadi satu, satu tapi tiga, Sendana, Alu, Taramanuq. Pemimpin saling menyeberang tak keberatan, tak saling mengingatkan dengan keras apalagi kasar, rakyat saling mengunjungi dengan aman. Kita sudah satu pagar tak terbatas, Sendana, Alu, Taramanuq bagu pamimpin dan bagi rakyat. Mati satu mati semua, hidup satu hidup semua".

Nauamo Puatta Isaragiang ; "Mammesa puammi tau mammesa tau, maqjuluq sara maqjuluq rio, mammesa pattuyu di lette samballa siola paqdisang. Daqdua mewata disawa, mesa memata dimangiwang. Mouna sisaraq tuwu anna nyawa tassiaraq-i Alu, Taramanuq, Sendana. Tassi paoro diadza, sipalete dirapang, padza nipe adaq adaqta, padza niperapang rapatta, tassi bore-boreang gauq tassipolong tanjeng tassi raqba tanattanang, sitaiang apiangang tassi taiang adzaeang"
Berkatalah Puatta di Saragiang ; "Bangsawan kita sudah menyatu rakyat juga jadi satu menghadapi kesusahan dan kebahagiaan, menyatukan keinginan di atas selembar tikar sebantal bersama. Dua mengawasi ular (musuh dari darat/hutan) yang satu mengawasi ikan hiu (musuh dari laut). Walau terpisah tubuh dengan nyawa, tapi Alu, Taramanuq dan Sendana tidak akan terpisahkan. Tidak saling mencampuri urusan adat dan aturan masing-masing, menjalankan adat dan kebiasaan serta hukum dan peraturan masing-masing, tidak saling keras mengerasi, tidak saling merusak tanaman, saling membawa pada kebaikan, saling menghindarkan dari keburukan".

Naua womo Idaeng Palulung ; "Mate arawiang Alu, Taramanuq, mate dibaya-bayai Sendana. Sara pole sara nisolai, rio pole rio nisolai. Leqboq tanna joriq, uwai tanni latta, buttu tanni polong dilalanna Bocco Tallu".
Berkata lagi Daeng Palulung ; "Bila Alu dan Taramanuq mati di sore, Sendana mati di waktu pagi. Kesusahan yang datang kesusahan dibagi, kebahagian yang datang kebahagiaan yang kita bagi. Laut tidak kita garis, air tidak kita putus, gunung tidak kita potong di dalam wilayah Bocco Tallu".

Melihat latar belakang pembentukan serta butir kesepakatan yang ada di dalamnya, dapat disimpulkan bahwa Perjanjian Bocco Tallu Pertama dibentuk untuk membangun satu kekuatan dengan melihat situasi dan kondisi di Mandar pada saat itu.

Sangat jelas dalam butir kesepakatan bahwa pertahanan dan keamanan merupakan perioritas utama disamping kerjasama pada bidang ekonomi. Ini merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya perang saudara antara Sendana, Alu dan Taramanuq yang bisa saja terjadi akibat hasutan dan strategi adu domba yang dijalankan oleh orang-orang Passokkorang pada saat itu.

Kalimat daqdua memata disawa mesa memata dimangiwang (dua mengintai ular satu mengintai ikan hiu) adalah kalimat kiasan yang memiliki makna : Dua kerajaan, yaitu kerajaan Alu dan kerajaan Taramanuq menjaga dan mengawasi musuh yang datang dari arah gunung atau hutan, dan satu kerajaan, yaitu kerajaan Sendana menjaga dan mengawasi musuh yang datang dari laut atau pesisir.

Kesepakatan ini lahir dengan melihat letak geografis wilayah masing-masing, dimana Alu dan Taramanuq merupakan kerajaan yang ada di daerah pegunungan dan Sendana adalah kerajaan yang berada di daerah pesisir atau pantai. Ini berarti, keamanan atas ancaman musuh yang datang dari arah hutan menjadi tanggung jawab kerajaan Alu dan kerajaan Taramanuq, dan keamanan atas ancaman musuh yang datang dari arah laut atau pesisir menjadi tanggung jawab kerajaan Sendana.

Persekutuan Bocco Tallu bertahan sampai pada abad XV Masehi dan baru dimulai memudar seiring dengan terbentuknya persekutuan Pitu Baqbana Binanga (Artikel Pitu Babana Binanga, Pitu Ulunna Salu).


(dikutip dari : Buku ASSITALLIANG MANDAR (2009), oleh Drs. ABD. MUIS MANDRA)

 

Comments 

 
#1 2011-09-26 07:25
artikel sejarah dan budaya yang sangat menarik :) salam sukses selalu kawan
Quote
 
 
#2 Bryant 2017-09-21 09:31
The results you achieve by performing these Natural Male Enhancement Exercises are permanent and so the ratio of men who select
increasing their manhood naturally is increasing day by day.

Various oils and lotions are also available on the market that will help enhance
your sexual prowess significantly. Actually, usually the one prescribed is determined by several factors, including health, allergies of antibiotic, and
types of prostatitis, symptoms, along with the serious
level.

My page www.viagrapascherfr.com/.../: www.viagrapascherfr.com/.../
Quote
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :

Chat Box


Bagi yang ingin berbagi tulisan atau lainnya mengenai Budaya Mandar, silahkan gabung bersama kami di Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar http://kpbwm.or.id/
Kampung Mandar Website Indonesia || Youtube|| Feeds|| Copyright © 2010-2013