Terdapat 41 Tamu online   ||   lulluare...! Sekarang hari :

 


Selamat datang di Website Kampung Mandar Sulbar Indonesia.      Diberitahukan bahwa telah dibentuk komunitas baru kami, Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar. Bagi yang ingin berbagi tulisan ataupun lainnya, silahkan gabung bersama kami atau hubungi kontak admin pada bagian bawah web ini.
Lokasi Anda : Home Sejarah Pertemuan untuk akhiri konflik Mandar dan Bone

Tampil : 11446 kali.

Pertemuan untuk akhiri konflik Mandar dan Bone

Pada penghujung abad XVII masehi, diadakan sebuah pertemuan antara Torisompae Arung Pone (Raja Bone) dengan Daeng Riosoq (Maraqdia/Raja Balanipa) di Lanrisang (sekarang daerah Jampue Kabupaten Pinrang).

Pertemuan ini dilaksanakan untuk menyelesaikan konflik antara kedua kerajaan yang berawal dari kejadian dimana Kerajaan Bone menyerang daerah Mandar.

Awal dari pertikaian ini disebabkan karena Kerajaan Bone yang bekerjasama dengan Tentara Belanda ingin mengadakan penyerangan ke kerajaan Gowa. Kerajaan Bone pun meminta bantuan ke wilayah Mandar, akan tetapi Kerajaan di Mandar menolak.

Hal ini disebabkan karena Kerajaan di Mandar tetap konsisten pada perjanjian dengan Kerajaan Gowa yang sudah disepakati, dan juga Kerajaan di Mandar tidak mau berurusan dengan Pihak Belanda. Akhirnya wilayah Mandar diserang oleh Bone, hingga Soreang Balanipa (sekarang Kandeapi), dibakar habis. Tapi perlawanan pasukan Kerajaan Balanipa berhasil mendesak mundur pasukan Kerajaan Bone pada saat itu.

Dalam penyerangan ke Kerajaan Gowa, Kerajaan Gowa kalah dan dikuasai oleh Kerajaan Bone dimana rajanya turun tahta digantikan oleh Raja Bone.

Setelah kemenganan di Gowa tersebut, pertikaian dan peperangan antara Kerajaan Bone dan kerajaan-kerajaan di Mandar (khususnya Pitu Babana Binanga) tetap berlanjut, karena pada saat sebelum menyerang ke kerajaan Gowa, kerajaan Bone menuduh Mandar bersekutu dengan Gowa.

Bone kembali menyerang dan kali ini juga terdapat pasukan Kerajaan Gowa. Pihak Mandar jadi kebingungan melihat keterlibatan Gowa dalam penyerangan kali ini.

Seusai perang itulah, Pertemuan di Lanrisang dilaksanakan, dalam hal ini Kerajaan-kerajaan Mandar di wakili oleh Kerajaan Balanipa. Secara umum dari pertemuan ini melahirkan kesepakatan untuk menghentikan perang dan permusuhan kedua belah pihak serta menjalin persaudaraan dan kerjasama terutama dalam hal menghadapi Belanda yang sudah banyak ikut campur dalam urusan pemerintahan di kerajaan masing-masing.

Prosesi pertemuan di Lanrisang ini tertuang dalam lontar Balanipa Mandar sebagai berikut :

Fashlun. Engkani menreq-e Lanrisang situdangeng to Bone Menreq-q.
Makkedani Menreq-e ; "Bone mua silaoang Soppeng ulaori. Metauqkaq kassa ri Balandae".
Makkedani Arung Pone ; "Ajaq metauq siajiang. Iyaqna sia taroiwi Balandae. Maeloq-i mala gajang, gajannapa Bone. Maeloq-i riwarang parang, warang parakupa nala".
Makkedani Menreq-e ; "Iyana kiella-ellau, arolange mua rikaraengnge kiarolai ri Bone. Kuwae topa kipo rapangnge rapammeng, enrengnge topa kipo bicarae bicarammeng, kipoadaq-e adammeng".
Makkedani Arumpone ; "Upappada mua tanae ri Bone tanae ri Menreq usapparanna deceng. Masse ajimuiq sia. Padania marola ri petta Nabie Muhammad SAW, pada pobicaraiq bicaratta, pada porapangngiq rapatta, pada lete ri petawung majekkota, tessi acinnangnge ri abeccukang tessi acinnangngeto ri arajang. Tessi pataqde waram parangngiq, tessipolo lenjengngiq, tessi tato lariwiq. Makkedai Bone nama teppaq Menreq-e, makkedai Menreq nama teppaq Bone. Koniro assituru senna Bone Menreq-e ri lalenna ceppae ri Lanrisang. Inai Arumpone, Torisompae. Inai Maraqdia Balanipa, Idaeng Riosoq.

Terjemahan :

Fasal. Sudah hadir Mandar di Lanrisang, duduk bersama dengan Bone Mandar.
Berkata Mandar : "Bone saja bersama Soppeng yang kami datangi. Kami takut pada Belanda".
Berkata Arung Pone : "Jangan takut saudaraku. Kamilah yang jadi borok (jaminan) pada Belanda. Kalau dia mau ambil keris, nanti keris Bone yang diambil. Dia mau ambil harta, nanti hartaku yang diambil".
Berkata Mandar : "Itulah harapan kami, agar cara kepatuhan kami pada karaeng (Gowe/pen), yang jadi kepatuhan kami ke Bone. Begitu juga kami tetap pakai peraturan kami, dan kami punya hak bicara tetap kami pakai, kami pakai hukum kami".
Berkata Arung Pone : "Saya samakan tanah Bone dengan tanah Mandar, sama-sama saya carikan kebaikan, karena kita adalah berkeluarga. Samalah kita tunduk pada Nabi kita Muhammad SAW, kita sama-sama memakai peraturan kita, sama-sama meniti pada pematang (hukum/pen) lurus kita dan sama-sama menyelesaikan sendiri kemelut hukum kita, saling tidak iri pada kekecilan, tidak pula pada kebesaran. Kita tidak saling menghilangkan harta, juga tidak saling keras mengerasi, tidak perlu saling dongkel mendongkel."
Berkata Bone Mandar percaya, berkata Mandar Bone percaya. Begitulah kesepakatan Bone dengan Mandar dalam Perjanjian Lanrisang. Ialah Raja Bone, Torisompe. Ialah Raja Balanipa, Daeng Riosoq.


Sumber : Buku ASSITALLIANG MANDAR (2009), oleh Drs. ABD. MUIS MANDRA
Baca juga : Artikel Raja I Balanipa (Hubungan Mandar dgn Kerajaan Gowa)

 

Comments 

 
#1 indah 2012-11-12 04:50
Bagaimana.klw.sejarah ini qta tarik pada kondisi hari ini.melihat.mahasiswa yg ambil studi di.makssar.sentimen etnis masih selalu terbawa
Apa ada hub.dr semangat bawaan sejarah.n sn selamanya yg memimpin ada Bone.karena sy blom melihat sosok pemimpin yg bisa bertarung di level nasional untuk negri kecuali.bapak Baharuddin Lopa.
Quote
 
 
#2 ibnu fawzi 2012-11-23 16:40
bagus skali senang membacanya sbagai putra mandar, tp klo bisa di perbanyak yah. sy sbagai pembaca tetap.
Quote
 
 
#3 ibnu fawzi 2012-11-23 16:42
kritisnya indah tawwa..
Quote
 
 
#4 sugiarto cokrowibowo 2013-08-03 18:01
Maaf sebelumnya...
Saya Bukan Orang Mandar Atau Bone Asli...
Tapi saya sangat suka Artikel ini...
Ini adalah Bagin Penting dalam Sejarah Bangsa Indonesia Jangan Sampai Terlupakan...
Quote
 
 
#5 andi.rhudi pallawa rukka 2014-01-11 00:21
Postingan yang menarik gan..,piss lloppp eeng gaol.
Quote
 
 
#6 nas firgyawan malik 2014-01-14 09:27
snang skali bisa mmbaca ini dan slam untuk orang'' MANDAR'' maumo mi'apa karao lambata tatta disalili lita'ta (MANDAR)
Quote
 
 
#7 ochapakkasolang 2014-11-18 14:30
Mekum sobat .....salam mesakada....klu masih ada perkelahian antara suku itu tandanya orng bodo
Quote
 
 
#8 aladi 2015-10-16 19:11
jangan kta samakan jaman dulu sama sekarang karna jamang dulu itu tempat berjuangnya raja2 kta yg ada di setiap suku sulawesi klo kta ambil jaman skarang malah ada yg bertengkar sesama suku karena soal sepeleh ada jga yg ingin berjuang demi harta astagfirullah mending hilang harta dari pada nyawa saudaraku jadi kta kan sudah merdeka jadi marilah kta saling menyayangi dan salin mengasihi dan menghormati pada sesama suku indonesia hidup dami itu indah saudaraku :lol:
Quote
 

Silahkan beri komentar, kalau ada link yang mati atau isinya perlu dikoreksi, laporkan juga disini.

Jawab :

Chat Box


Bagi yang ingin berbagi tulisan atau lainnya mengenai Budaya Mandar, silahkan gabung bersama kami di Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar http://kpbwm.or.id/
Kampung Mandar Website Indonesia || Youtube|| Feeds|| Copyright © 2010-2013