Terdapat 75 Tamu online   ||   lulluare...! Sekarang hari :

 


Selamat datang di Website Kampung Mandar Sulbar Indonesia.      Diberitahukan bahwa telah dibentuk komunitas baru kami, Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar. Bagi yang ingin berbagi tulisan ataupun lainnya, silahkan gabung bersama kami atau hubungi kontak admin pada bagian bawah web ini.
Lokasi Anda : Home Sejarah Sekilas Sejarah Mandar

Tampil : 17310 kali.

Sekilas Sejarah Mandar

Persepsi tentang Mandar adalah nama suatu kerajaan, merupakan persepsi yang keliru karena sepanjang sejarah tidak pernah ada kerajaan Mandar yang rajanya disebut Raja Mandar dengan wilayah kekuasaan seluruh wilayah Mandar. Yang ada adalah raja-raja di Mandar yang berdaulat dan berkuasa penuh di wilayah kerajaannya masing-masing.

Persekutuan (konfederasi) dari ke-14 kerajaan yang pernah ada di kawasan Barat Sulawesi-lah yang membentuk Tanah Mandar. Tujuh kerajaan di wilayah pantai yang lebih dikenal dengan sebutan Pitu Baqbana Binanga (tujuh muara sungai) dan tujuh kerajaan di wilayah pegunungan yang lebih dikenal dengan nama Pitu Ulunna Salu (tujuh hulu sungai).

(Klik disini untuk melihat daftar kerajaan-kerajaan di Mandar)

PITU BABANA BINANGA

Persekutuan ini diiprakarsai oleh Raja (Arayang) Balanipa II, Billabillami dengan gelar Tomepayung. Kemudian diperkuat kembali oleh Raja (Arayang) Balanipa ke VI, Todziboseang dalam Assitalliangan (perjanjian) Tammejarra ke-2. Para leluhur kerajaan yang ada di Pitu Babana Binanga bersepakat menetapkan Kerajaan Balanipa sebagai ama (Bapak), dan Kerajaan Sendana sebagai indo (Ibu), sementara kerajaan lainnya sebagai anak.

Kerajaan Balanipa dalam posisinya sebagai ama (Bapak) merupakan posisi tertinggi, manakala terjadi sengketa dan perseteruan eksternal maupun internal yang terjadi dan tidak bisa diselesaikan, terlebih dahulu akan dihadapkan ke Kerajaan Sendana (indo). Manakala tak sempat terselesaikan di tangan Kerajaan Sendana (indo/Ibu), maka masalah akan dilanjutkan ke Kerajaan Balanipa (ama/bapak).

Apabila di tangan Kerajaan Balanipa suatu masalah dipastikan selesai, dan harus diterima secara lapang dada oleh para pihak (anak) yang bersengketa. Sebab jika tidak demikian maka akan di lanjutkan lewat hukum adat Bala Batu atau Bala Tau, adalah sebuah tempat penyelesaian perkara di Balanipa Mandar yakni lewat pertarungan satu lawan satu saling menikam dalam satu arena (diadu) sampai salah satu pihak meninggal.

Hukum adat seperti ini dinamakan Adat Mate (Hukum Adat Mati) yang tidak lepas dari nilai rasa Siri', inilah yang membuat orang-orang Mandar pada masa dahulu terkenal akan keberaniannya, jauh sebelum Persekutuan Pitu Babana Binanga (PBB) terbentuk.

Seiring dengan perkembangan di Tanah Mandar dan masuknya ajaran Islam hukum ini perlahan pudar, tetapi orang-orang Mandar sampai saat ini masih tetap berpegang teguh dan mempertahankan kebudayaan SIRI' nya.


PITU ULUNNA SALU

Apabila kerajaan di daerah Pantai Mandar membentuk persekutan yang lebih dikenal Pitu Baqbana Binanga (tujuh muara sungai), kerajaan-kerajaan di daerah Pegunungan Mandar-pun juga membentuk persekutuan yang lebih dikenal Pitu Ulunna Salu (tujuh hulu sungai).

Ada perbedaan dalam menjalankan roda pemerintahan di Persekutuan ini, yaitu berubahnya Adat Mate menjadi Adat Tuo (hukum hidup).

Untuk lebih lanjut tentang Pitu Ulunna Salu silahkan baca artikel PITU ULUNNA SALU, ADA TUO.


(dari berbagai sumber)

 

Chat Box


Bagi yang ingin berbagi tulisan atau lainnya mengenai Budaya Mandar, silahkan gabung bersama kami di Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar http://kpbwm.or.id/
Kampung Mandar Website Indonesia || Youtube|| Feeds|| Copyright © 2010-2013